Asal-usul nama Desa Teluk Awur berkaitan dengan kisah Syekh Abdul Aziz dan Dewi Roro Kuning (Ayu Roro Kuning), murid Sunan Muria yang dikenal akan kecantikannya. Syekh Abdul Aziz, seorang pendakwah dari negeri timur, memiliki kebiasaan pulang ke rumah sebelum selesai bekerja di ladang hanya untuk melihat sang istri. Untuk mencegah hal itu mengganggu pekerjaannya, Dewi Roro Kuning memintanya melukis wajahnya agar dapat dibawa ke ladang.
Suatu hari, lukisan tersebut diterbangkan angin hingga jatuh di halaman kerajaan Raja Joko Wongso. Sang raja yang terpikat memerintahkan prajuritnya mencari perempuan dalam lukisan itu dan membawanya ke istana. Dewi Roro Kuning pun dibawa ke kerajaan, sementara Syekh Abdul Aziz yang kehilangan lukisan dan istrinya kemudian mengetahui bahwa ia hendak dijadikan permaisuri.
Syekh Abdul Aziz kemudian pergi ke kerajaan dengan menyamar sebagai pemain kentrung. Ia berhasil menemui Dewi Roro Kuning dan bersama-sama menyusun siasat untuk menggagalkan niat Raja Joko Wongso. Dewi Roro Kuning mengajukan syarat agar raja mencarikan kerang kijing terindah. Saat raja menyisir pantai dengan menyamar sebagai nelayan, Syekh Abdul Aziz justru mengenakan pakaian kerajaan dan memerintahkan prajurit mencari penyusup yang menyamar. Kesalahpahaman pun terjadi; Joko Wongso yang berada di pantai dikeroyok hingga tewas meski telah berteriak bahwa dirinya telah “teluk” (takluk), tetapi rakyat tetap “ngawur”. Dari peristiwa itulah nama Teluk Awur dipercaya berasal.
Raja Joko Wongso dimakamkan berdekatan dengan Dewi Roro Kuning, sedangkan Syekh Abdul Aziz dimakamkan di Desa Jondang dan dikenal sebagai Syekh Jondang. Selain legenda tersebut, masyarakat juga meyakini adanya mitos tentang kecantikan perempuan asli Teluk Awur serta kepercayaan bahwa mandi di Pantai Teluk Awur, termasuk di kawasan Karang Genuk, dapat membantu mengatasi penyakit kulit.