Desa Telukawur

Sejarah

Syekh Abdul Aziz dan Dewi roro kuning

Syekh Abdul Aziz seorang pendakwah dari negeri timur memiliki kebiasaan pulang ke rumah sebelum selesai bekerja di ladang hanya untuk melihat sang istri yang cantik, Dewi Roro Kuning.

Lukisan Terbawa Angin

Melihat kebiasaan suaminya seperti itu, Dewi Roro Kuning mengusulkan untuk membuat lukisan dirinya kepada seorang pelukis. Namun, suatu hari lukisan tersebut diterbangkan angin

Raja Joko Wongso Terpikat

Raja Joko Wongso yang melihat lukisan itu terpikat akan kecantikan Dewi Roro Kuning dan memerintahkan prajuritnya mecari perempuan dalam lukisan tersebut dan berhasil membawanya ke istana untuk dijadikan permaisuri.

Penyamaran di Kerajaan

Mengetahui hal tersebut, Syekh Abdul Aziz menyamar sebagai pemain kentrung dan pergi ke kerajaan. Ia berhasil menemui Dewi Roro Kuning, dan keduanya bersepakat menggagalkan niat Raja Joko Wongso dengan syarat raja harus mencarikan kerang kijing terindah dengan mengenakan pakaian nelayan.

1

2

3

4

5

Asal Usul Nama Teluk Awur

Saat raja menyisir pantai dengan menyamar sebagai nelayan, Syekh Abdul Aziz mengenakan pakaian kerajaan dan memerintahkan prajurit menangkap penyusup. "Dalam keadaan itu, sang Raja Joko

Dari ucapan itulah lahir nama tempat di mana Prabu Joko Wongso dianiaya, yaitu Telukawur. Jasadnya dimakamkan berdekatan dengan makam Eyang Raden Ayu Roro Kuning di Desa Telukawur, sementara Syekh Abdul Aziz dimakamkan di Desa Jondang dan dikenal dengan sebutan Syekh Jondang."

hingga jatuh di halaman kerajaan Raja Joko Wongso.

Wongso berteriak 'Teluk! Teluk!' (takluk), namun prajurit dan rakyat tak menghiraukan hingga ia tewas. Sebelum ajal menjemput, ia sempat berucap, 'Aku rajamu! Aku sudah bilang teluk, teluk, tapi kalian tetap ngawur!'

Ilustrasi AI, bukan dokumentasi sejarah asli

Telukawur, RT 001 RW 001 Tahunan Jepara, Jawa Tengah, Indonesia.

Temukan kami di Pesisir Jepara!

Alamat

Halaman

Sosial Media

Kontak

Email:

No :

Facebook

TikTok

Instagram

YouTube

Support By: